TEGUH DI DALAM KUBUR

Allah SWT berfirman yang artinya : “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (kalimah thayyibah) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”.
Al-barro’ bin Azib ra meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwasanya beliau bersabda yang artinya : “Apabila seorang muslim di dalam kubur ditanya (oleh malaikat Munkar dan Nakir) kemudian ia mempersaksikan bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, maka itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala (yang artinya) :”Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (kalimah thayyibah) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”.
Peneguhan bagi orang mukmin yang ikhlas dan taat kepada Allah Ta’ala itu terjadi dalam tiga keadaan, yaitu: sewaktu menghadapi malakul maut (malaikat pencabut nyawa), sewaktu menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir (di kubur), dan sewaktu menghadapi pertanyaan pada hari penghitungan amal.
Peneguhan sewaktu menghadapi malakul maut itu berupa tiga hal, yaitu :

Peneguhan sewaktu menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di kubur itu berupa tiga hal, yaitu:

Sedangkan peneguhan sewaktu menghadapi pertanyaan pada hari perhitungan amal itu juga berupa tiga hal, yaitu:

Ada juga yang mengatakan bahwa peneguhan itu terjadi dalam empat keadaan, yaitu sewaktu mati, sewaktu berada dalam kubur sehingga ia bisa menjawab pertanyaan tanpa adanya rasa takut, sewaktu penghitungan amal, dan sewaktu ketika berada di atas titian sehingga ia bisa selamat melewatinya laksana kilat yang menyambar.
Mengenai pertanyaan dalam kubur, bagaimana pertanyaan itu dilaksanakan kepada orang yang baru saja meninggal dunia. Maka dalam hal ini ada beberapa pendapat dengan mengemukakan alasan yang bermacam-macam. Diantaranya ada yang mengatakan bahwa pertanyaan di dalam kubur itu ditujukan kepada nyawanya bukan jasadnya. Pada saat seperti ini nyawa itu masuk ke dalam jasad hanya sampai di dadanya. Dan ada yang mengatakan nyawa itu berada antara jasad dan kain kafannya. Masing-masing pendapat itu berdasarkan pada dalil yang ada.
Ada juga pendapat dari para kiai, bahwa pada saat seperti itu (pertanyaan dalam kubur) nyawa dikembalikan lagi ke jasad. Dengan mengemukakan alasan bahwa seseorang ketika mati maka dikatakan “fulan sudah mati, mayat si fulan sedang dimandikan dan ketika ditalqin dikatakan hai fulan bin fulan bukan hai mayat si fulan”.
Yang benar menurut para ulama’, yaitu sesroang hendaknya percaya saja tentang adanya pertanyaan kubur tanpa harus menghabiskan waktu untuk membicarakan bagaimana cara pwertanyaan itu disampaikan, dan cukup baginya untuk mengatakan : “Allah yang lebih mengetahui tentang bagaimana proses pertanyaan itu akan terjadi”
Kita wajib percaya apabila kita sudah mati dan dikubur, bahwa pertanyaan malaikat itu pasti akan terjadi. Apabila seseorang tidak mempercayai adanya pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, maka keingkarannya itu disebabkan oleh dua hal, yaitu :

Apabila seseorang mengatakan : “Hal itu tidak sejalan dengan akal fikiran yang sehat” maka ucapannya itu akan membawa kepada peniadaan nabi dan pembatalan mukjizat karena para rasul itu adalah manusia biasa, sifat mereka seperti sifat manusia pada umumnya, namun mereka bertemu dengan malaikat dan diberi wahyu; lautan dibelah oleh Nabi Musa a.s dan tongkatnya menjadi ular. Kalau hanya menuurut akal fikiran, maka hal itu tidak masuk akal. Mengingkari hal itu menjadikan seseorang keluar dari Islam, murtad. Sedangkan apabila seseorang mengatakan: “Hal itu bisa saja terjadi, namun tidak ada dalil yang kuat” maka kita telah meriwayatkan beberapa hadits yang bisa menmbuat mantab orang yang mendengarnya.
Kita mohon pertolongan dan perlindungan kepada Allah, semoga dijauhkan dari keinginan yang sesat dan menyesatkan serta semoga dijauhkan dari siksa kubur, karena sesungguhnya Nabi SAW juga mohon perlindungan kepada Allah dari yang demikian itu.
Oleh karena itu setiap muslim wajib mohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari siksa kubur dan mempersiapkan diri dengan mengerjakan amal-amal shalih sebelum ia masuk ke dalam kubur. Melakukan amal-amal shalih mudah dilakukan selamaia masih berada di alam dunia ini, karena bila sudah masuk ke liang kubur maka ia berangan-angan untuk diizinkan kembali ke dunia untuk mengerjakan amal shalih, namun ia tidak akan diberi izin dan tetap berada dalam kerugian dan kenistaan. (m.muslih albaroni)

Previous | Index | Next | Print artikel 

Make your own free website on Tripod.com